Keberdayaanku memudar,
nampaknyapun ku hanya senyawa,
menetralkan batin tatkala kau tak menyambut seruan.
Bukan hanya permainan yang kau lahirkan,
bukan pula lisan yang terlontar yang tak dapat kau selesaikan,
namun kau juga menyisakan kegelapan di kedalaman.
Pandangan buram, sayu suara lirih terdengar, tertatih aku saat bersamamu yang kujadikan cahayaku.
Kupilih memadamkanmu,
karna dengan atau tanpamu, hanya bermuarakan kelam,
Ya, ku memadamkanmu,
dan mencari celah demi mendapatkan setitik sinar asing,
batinku mengestimasi, ku kan baik saja hari ini, ataupun nanti.
Lebam memar batin kala itu usahlah dihidupkan kembali,
aku bukanlah si murung yang dengan tadahan tangannya mengemismu untuk pre-memory.
Kau tak lagi nyata untukku,
diantara sujudku ku berlisan padaNya, "hapuskanlah memoriku tentang dia, si cahaya senja."
Suatu kala,
kau kan terbangun dengan penyesalanmu,
dan suatu ketika,
kau akan menuai apa yang kau tanam padaku..
Teruntukmu barit ritmaku,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar